Indonesianodds - Indonesianodds

Online Baccarat Cheating_American Casino_Baccarat betting_Betting platform_Real Money Gambling Site

  • 时间:
  • 浏览:0

Saat rOnline betting URLeuOnline betting URLni tentu kaOnline betting URLmu harus duduk semeja dengan teman-teman yang sekarang sudah jadi ibu-ibu dan bapak-bapak. Masing-masing bawa anak-anak mereka yang lucu-lucu, sementara kamu cukup bawa diri. Kalau ditanya “Sendiri aja nih?” tinggal bilang “Gak, ini sama harapan dan doa…” Semoga cepet ketemu jodoh, maksudnya.

Buat banyak orang, menikah adalah tahapan hidup yang lebih penuh tanggung jawab, yang selanjutnya. Kadang ini bikin kamu yang belum menikah merasa hidupmu stuck di situ-situ aja, gak berkembang ke arah yang lebih dewasa.

“Widiiih…”

Kamu: “Ehh, baby Ester sekarang udah gede ya? Udah berapa tahun umurnya? Hayo sini main sama Tante!”

“Ditinggal nikah” itu ternyata gak cuma berlaku buat mantan, tapi juga buat teman.

Namanya juga suami-istri. Pikiran mereka pasti udah saling terhubung satu sama lain dan saling mempengaruhi. Wajar aja tiap kamu ngobrol sama dia kamu serasa ngobrol sama suami atau istrinya juga.

Cuma karena kamu belum nikah, bukan berarti hidupmu harus tanpa arah. Itu sih pemikiran yang salah! Memangnya kamu nggak bisa jadi orang dewasa cuma gara-gara kamu single? Memangnya kamu gak bisa bertanggung jawab cuma gara-gara belum jadi orangtua?

Dulu kamu dan dia masih bisa sering kelayapan bareng. Sekarang, susah buat dia keluar malam tanpa ijin suami/istri. Sudah diijinin pun pasti gak enakan kalau main-main sampai pagi.

Kamu: “Ya kali milih-milih, punya pilihan aja enggak~~~” *joget pinguin*

Memang benar sih, kamu tetap ada di dalam hidup barunya. Sosokmu sebagai teman selama bertahun-tahun lamanya tidak mungkin tergantikan.Tapi namanya juga salah satunya udah nikah, pasti fokus udah beda. Walau masih teman, sedikit banyak kamu tetap merasa kehilangan.

Boro-boro mikir soal pasangan hidup. Kalau kamu ditanya mau malam Mingguan sama siapa, kamu gak bakal tahu deh apa jawabannya. Ya gimana, udah biasa banget Sabtu malam dihabiskan cuma masak mie instan, baca buku, nonton film atau main kucing. Maaf, tidak biasa bersama manusia yang lain…

“Gue kira lu gak suka martabak?”

Anaknya temen: “Tante kok gak bawa anaknya biar Ester ada temennya?”

“Ntar pas mau pulang kita mampir martabak ya.”

Tenaaang. Semua itu udah ada yang ngatur. Percaya ‘kan?

“Kapan nikah? Yah kalo gak hari Sabtu ya hari Minggu.” (jawaban standar)

Daripada galau dan mengutuki hidup yang sendiri ini, kamu justru bisa:

Walau sampai sekarang masih sendiri, kamu sebenarnya bisa bahagia juga melihat teman-teman dekatmu satu per satu bertransformasi menjadi suami atau istri. Rasanya haru dan tak menyangka karena baru beberapa tahun sebelumnya kamu dan mereka hanyalah sekumpulan anak urakan yang hobinya makan, karaoke, dan keluyuran.

Hanya ilustrasi maaf — mbaknya cantik kok! m.ask.fm

Temen: “Mana gandengannya? Kok sendiri terus sih?”

Temen: “Huuu… Kamu siiih… pemilih!”

Sepanjang kesadaranmu sih, kamu sudah berusaha menjaga hati dan pikiran supaya terbuka. Kalau ada yang menghampiri, gak akan kamu tolak kok, ya ladeni saja. Siapa tahu nyambung dan sama-sama nyaman juga ‘kan. Sayangnya, entah kenapa sampai sekarang jarang banget ada yang menghampiri. Sedih karena yang terjadi justru lebih sering sebaliknya: kamu menyimpan rasa tapi gak dibalas sama orangnya…

Yaela~~

Iya, punya temen deket yang satu per satu mulai naik ke pelaminan itu meninggalkan aftertaste berupa kegalauan

Gak cuma itu, kamu sekarang gak lagi bisa asal main ke rumahnya. Harus tanya dulu apa dia lagi sibuk, karena gak enak sama suaminya. Bukan salahnya dia, bukan salah siapa-siapa. Cuma itu faktanya aja.

“Didoain aja deh ya…”

“Kapan nikah? Yah kira-kira 3 jam 20 detik lagi…” *sambil liat jam tangan*

Sebenarnya hidupmu sama hidup teman-teman yang udah nikah tuh sama-sama aja kok. Ada sedihnya, banyak bahagianya, penuh momen-momen bikin ngakaknya. Ya udah~

Ada rasa bangga juga ketika hubungan kalian gak berhenti hanya karena dia sudah menikah. Justru kamu diterima sebagai bagian dari lembar hidupnya yang baru. Dia bakal jadi orang yang berbeda tapi sebagai teman, kamu memilih tetap setia.

“Si Agni udah sukses nikah sama Eli. Lah gue? Kerjaannya masih nyari-nyari. Sampe ditawarin taaruf segala dong.”

Saat temanmu yang sudah menikah sibuk bersih-bersih rumah karena mau kedatangan mertua, kamu bisa santai-santai aja di kamar dan bangun siang. Teman kamu sering update destinasi liburan weekend-nya bareng suami, kamu sih lebih sering ke mall sendiri.

“Iya, doain aja cuy.”

Gak bisa dipungkiri. Walau kamu senang melihat teman-temanmu satu per satu melangkah menuju kehidupan baru, sedikit banyak ada rasa galau juga yang berkelebat di kepala.

Rasanya seru melihat teman-temanmu sekarang bertransformasi utuh menjadi seorang ayah atau ibu. Kebahagiaan mereka tak bisa ditahan-tahan lagi, terpancar jelas di wajah dan kalimat mereka padamu. Kamu sedikit iri melihat mereka sibuk menggendong anaknya, memberi susu, bermain-main sambil bercanda dengannya.

Anaknya temen: “Lho kok bisa?!”

Kamu minta doa terus, kayak anak baru sunat.

Kamu: “Lah, mana aku tahu…” *pasrah*

Gelagat-gelagat teman yang sebentar lagi mau nikah itu bisa kebaca. Gak pernah nongol di grup, tahu-tahu nyapa semua anak di sana. Gak ada angin gak ada ujan, tiba-tiba nanya sibuk apa enggak dan minta ketemuan. Yah, minimal minta alamat rumah lah buat kirim undangan.

“Kalau dulu gue gak putus, mungkin malah udah duluan. Mungkin dateng ke kondangan gak usah sendirian…”

Kamu: “Tante ‘kan belum punya anak, Ester…”

“Minta doanya ya.”

Entah itu besok, bulan depan, atau 5 tahun kemudian, akan tiba saatnya di mana kamu gak perlu khawatir lagi sendiri. Entah karena memang sudah ada yang menemani, entah karena memang kamu nyaman dengan hidup yang sudah kamu pilih ini.

Kamu pasti udah hafal.

Banyak orang yang udah ngebet nikah suka lupa, belum nikah pun juga banyak nikmatnya. Kamu lebih bebas menentukan apa saja karena memang belum hidup untuk berdua. Tiba-tiba pengen sesuatu, begitu punya duit ya tinggal beli aja. Tiba-tiba pengen pergi ke tempat tertentu, nabung bentar, urus cuti, kelarin tugas kuliah, pergi deh. Ada undangan kawinan? Ambil baju paling bagus, dandan bentar, jangan lupa senyum, langsung cus!

“Duh, gue kapan ya?”

“Iye, buat bini.”

Pastinya ini bikin kamu ngerasa campur aduk. Di satu sisi kamu bahagia buat mereka, di sisi lain kamu merasa kehilangan sekaligus harus menghadapi tekanan orang yang menyuruh kamu cepat nyusul. Padahal, punya calon aja belum, hih!

Masih sendiri bukan berarti kamu gak bertanggung jawab. Justru ini momen paling tepat buat belajar jadi lebih hebat.

Tak pelak kamu bertanya-tanya kapan bisa diberi oleh Tuhan anugerah yang sama. Tapi… mau bikin anak sama siapa… *backsound: “Sudah terlalu lama sendiri~~”

“Ini aku lagi ngobrol sama kamu atau istrimu sih? Hahaha.”

Menyaksikan teman-teman dekatmu menikah satu per satu udah pasti bikin kamu terinspirasi. Kagum rasanya sama keberanian dan keberuntungan mereka di usia semuda ini. Gak kayak kamu, mereka sudah punya pasangan berbagi janji sehidup-semati. Hidup rasanya terus maju, gak terus-terusan begini.

Dalam hati kamu bertanya-tanya kapan saatnya kamu bisa seperti mereka. Minta izin ke bos buat gak masuk kerja karena anak sakit, bisa bilang “Iya nih, buat istri gue” pas beli martabak, nolak kongkow-kongkow karena duit harus ditabung buat ngajak keluarga jalan-jalan. Hmmm….

Paling gak ngerti kalau orang-orang nanya yang satu ini. Iya sih, mungkin basa-basi… Tapi terus mereka ngarep jawaban apaa? ‘Kan udah tahu calonnya aja belom ada~

Kayak apa sih rasanya punya teman-teman dekat yang udah nikah, sementara kamu masih sendiri?

Ada orang yang memang mau nikah muda. Ada yang mau sama, tapi jatuhnya gak muda-muda amat. Ada yang gak mau nikah muda dan memang baru nikah setelah benar-benar dewasa. Ya udah, toh hidup bukan soal siapa yang bisa cepat-cepatan menyalip. Tiap orang punya trek-treknya sendiri dan gak ada garis finish yang harus buru-buru dilalui.