Indonesianodds - Indonesianodds

Football Handicap Rules_Online sports betting sites_bet365 sports betting

  • 时间:
  • 浏览:0

PertBBaccarat TechBaccarat Technologynologyaccarat Technologyamanya iyaBaccarat Technology, di Comic 8, kemudian baru mulai nuliBaccarat Technologys dan direct di film Ngenest 2015.

Jadi industrinya sedang dalam mood yang sangat baik. Investasi dari luar negeri juga mulai masuk setelah Pak Jokowi di tahun 2015 menghapuskan bioskop dari daftar negatif investasi. Artinya investasi luar bisa masuk ke bioskop gitu, jadi lagi booming. Yang kurang sebenernya dari aspek SDM. Kalau di Jogja ada Jogja Film Academy, di Jakarta ada IKJ, ada SAE, cuma ada berapa gitu dengan kebutuhan industri yang sebesar ini. Yang kurang adalah pembinaan SDM, itulah kenapa gue bikin kelas terus untuk sebisa mungkin memunculkan bakat-bakat baru.

Kedua, pertambahan jumlah layar ini juga penting banget. Sebenernya jumlah layar di indonesia kalau dibanding dengan jumlah penduduknya, itu masih sedikit banget. Banyak banget kota di Indonesia yang belum ada bioskopnya.

Milly dan Mamet itu idenya bukan dari gue, dari Mbak Mira Lesmana. Beliau dateng ke gue dengan konsep bikin spin off untuk AADC Universe dengan menampilkan Milly dan Mamet. Jadi idenya bukan dateng dari gue, tapi gue diajak. Dan itu adalah tawaran yang begitu memberikan kehormatan buat gue. Tentu saja gue nggak nolak.

Sampai saat ini masih belajar untuk ngulik di situ, tingkat kesulitan untuk drama teknisnya tidak sesulit katakanlah genre action. Saya sebagai filmmaker pemula lebih tahu diri aja nggak mau bikin yang ribet-ribet dulu. Coba mengasah kemampuan dengan bikin yang simpel-simpel dulu.

Kalau dibilang tentang keresahan tetep ada. Sebagai suami yang sudah menikah selama 11 tahun dan menulisnya juga bareng istri, kita punya banyak hal yang bisa disampaikan tentang hal berumah tangga. Keresahannya masih bisa digali. Cuma ini titiknya yang berbeda, titik mulanya yang berbeda.

Waktu pertama kali ditawarin nge-direct Ngenest sebenernya gue nggak mau. Waktu pertama kali main film, terus lihat kerjanya sutradara, gue udah mikir, “Buset, ini mah susah banget.” Tapi gue pernah satu kali pengalaman nulis dan nge-direct web series, walaupun skalanya masih sangat kecil, sedikit modal itu yang gue pakai.

Nah, modal ini yang nantinya berguna ketika dia masuk ke layar lebar. Karena secara insting, secara talenta, sudah pasti dia andal memainkan komedi. Karena komedi ini bukan sesuatu yang gampang, komedi juga butuh insting dan butuh talenta yang cukup rumit. Modal dasar yang cukup rumit, jadi modal dasarnya tuh kuat kalo misalnya dibawa ke film. Artinya belum tentu aktor yang diajakin (main film) itu bisa berkomedi, tapi kalo komedian yang diajakin (main) itu udah pasti bisa berkomedi, kira-kira begitu.

Terus gue bilang sama produsernya kalau gue nggak berani nge-direct layar lebar. Gue nggak siap. Dia bilang, “Ya, sudah, kalau gitu kita bikin timnya yang bisa support.” Didampingi tim yang udah banyak jam terbangnya dan bisa mengoptimalkan apa yang gue punya. Jadi campuran antara cinta sama film dan nekat sih.

Pemerintah udah support di pengembangan bisnis bioskop. Yang gue harapkan support SDM. Berapa banyak sekolah film yang bisa kita bikin dalam waktu 10 tahun ke depan, misalnya, untuk menjaga apa yang kita punya saat ini tuh nggak cepet jatuh.

Gue belom bosen sama drama komedi, terutama yang berbau-bau keluarga karena itu adalah sesuatu yang dekat dengan kita. Jadi nggak akan pernah basi, akan selalu relevan aspek-aspek yang ada dalam keluarga. Dengan kombinasi drama dan komedi, banyak banget yang bisa diolah.

Stand up comedy dengan film bukan hal aneh di Hollywood. Di Eropa, misalkan, nama-nama besar kaya Kevin Hart, Jim Carry, Alm. Robbin William itu berawal dari stand up comedy. Kenapa stand up comedian memiliki layer yang baik di layar lebar, terutama di genre comedy, seorang komedian itu kalo dia sudah berhasil menjadi komedian, berarti dia sudah jelas punya bakat dan punya etos kerja yang baik untuk bisa membangun kariernya sendiri.

Dari 2016-2018 perfilman kita pertumbuhannya pesat banget. Dua indikator utama, angka penonton yang terus naik, dari 18 juta di 2015, tiba-tiba di 2016 jadi 37 juta. Kemudian di 2017 jadi 42 juga. Sampai saat ini udah 45-46 juta, mungkin bisa 50 juta di akhir tahun. Pertumbuhan jumlah penonton otomatis menandakan sesuatu yang baik.

Waktu berlalu. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan, tapi berhubung Ernest Prakasa dikejar waktu untuk pulang, terpaksa pertanyaan saya simpan untuk lain waktu. Selain itu, rupanya dia sudah ditunggu penggemarnya di samping tenda untuk meminta foto. Nggak mau kalah, kami pun juga.

Film Milly dan Mamet memang proses kreatifnya agak berbeda dengan film Ngenest, Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal. Itu (film sebelumnya) sumbernya dari premis dulu, dari keresahan dulu, baru dicari “kendaraannya” untuk membawa si cerita. Kalau di film ini udah ada karakternya.

Gue pengen banget bisa bikin film action, tapi tetep komedi. Action comedy gitu karena emang dari kecil seneng nonton film kungfu, nonton Jackie Chan. Cuma gue ngerasa untuk bikin film action itu punya level teknis yang sangat sulit, yang beda banget sama film drama, ada tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi. Jadi mungkin kapan-kapan.

Karena industri berkembang, semua orang mau buat film. Investor berebutan masuk tapi kalau SDM-nya nggak cukup, akhirnya nanti pasar film kita akan dihujani film-film yang tidak cukup atau tidak layak tayang. Dan akhirnya penonton ilfeel. Muter lagi deh siklus 10-15 tahun yang lalu. Semoga itu nggak terjadi.