Indonesianodds - Indonesianodds

World Bookmaker Ranking_Best Baccarat Betting Method_Online Baccarat Casino_Recommended betting platform_Sports betting

  • 时间:
  • 浏览:0

JIndonesian Football Handicapindonesian Football Handicapadi pejuang cinta di Jakarta itu enggak gampang, Sist. Kalau pacarmu tinggal di Menteng sementara rumahmu di Bekasi, Indonesian Football Handicapwassalam aja. Kencan pertama dan kedua mungkin kamu masih rela jemput dia di rumah. Kencan ketiga dan seterusnya? Ketemuan di lokasi kencan aja, lah!

Walau mundur dari target, MRT Jakarta dicanangkan selesai tahun 2018.

Hiburan di rumah hampir nggak ada. Masa’ kamu harus nonton sinetron di TV seharian? Dilalah, sepanjang weekend kamu bakal keluar buat day trip ke Bandung, Puncak, atau paling sering sih ke mall.

Kasus kejahatan banyak terjadi di malam hari. Kamu pun berusaha sebisa mungkin buat nggak pulang malam-malam. Kalaupun harus begitu, kamu memilih cari tebengan pulang atau naik kendaraan umum tertentu yang bisa kamu percaya.

“Eh! Apaan nih Bro?”

^.^v

Kamu mbrojol disini, sekolah disini, kerja disini. Pulang kampung bertemu keluarga besar ya cuma pas Lebaran/Natal. Bagimu, Jakarta sudah jadi rumah pertama.

Yang bisa ditebak ketika kamu tinggal di Jakarta cuma dua: banjir dan macet. Udah, gak ada lagi. Kamu bakal dikejutkan tiap hari disini. Dan apapun yang terjadi, kamu gak boleh ngeluh atau patah hati.

“Waaah…” *tiba-tiba lempar gelas*

AMBISI: Jemput pacar di Grand Indonesia, buru-buru karena harus beli bunga dulu

Teman 1: “Wah, anak Jakarta sih ya? Ke mall mulu mainnya…”

Apa coba yang nggak ada di Jakarta? Dari mulai kebutuhan sehari-hari, tempat bersejarah, pantai, sampai makanan khas dari berbagai daerah, semuanya bisa ditemukan dengan mudah di setiap sudut kotanya. Pokoknya, nggak akan deh kebingungan atau kesulitan mencari sesuatu.

Tergantung duitmu. Hehe.

Teman: “Wuih, keren ya kalau ngomong pakai ‘gue’? Oke deh nanti gue absenin aja.”

Kehidupan di Jakarta itu terasa banget berlalu dengan cepat. Orang nggak akan sempat basa-basi. Di kota lain, mungkin orang yang duduk di sampingmu di bus bakal ngobrol ramah-tamah. Di Jakarta, setiap orang akan sibuk dengan HP. Mungkin juga mereka malah pura-pura tidur.

REALITA: Kejebak angkot-angkot yang ngetem. Ngejemput aja telat, apalagi beli bunga?

#yabegitulah

Nggak usah terlalu peduli omongan orang; nasib kamu ada di tangan sendiri. Kerja sendiri, harus inisiatif. Konsultasikan ke bos apa yang salah, lalu perbaiki. Harus terbuka dan mau belajar. Kalau nggak gitu, kamu nggak bakal bisa bertahan.

Sering gak punya teman buat ditebengin –> Ikut Komunitas Nebengers

JAKARTA: can’t live with it. Can’t live without it.

Harus waspada kalau mau bertahan di kota besar seperti Jakarta. Sudah banyak kasus tragis yang berujung pada hilangnya nyawa.

Kalau untuk urusan lapangan kerja, Jakarta memang gudangnya; terbukti dari banyaknya pendatang yang mengadu nasib di ibukota negara ini. Jakarta juga merupakan pusat industri dan pemerintahan, sehingga banyak perusahaan serta departemen yang berdiri di Jakarta. Belum lagi dengan usaha-usaha menengah kreatif yang mulai menjamur. Pokoknya, kesempatanmu untuk bekerja sangat luas.

Biarpun Jakarta terkenal dengan warganya yang cuek dan individualis, bukan 1-2 kali hidupmu diselamatkan oleh orang-orang yang kamu temui di jalan. Ada babang-babang yang mengantarkan kamu ke tempat tujuan tanpa mau dibayar. Ada tukang soto yang bercerita panjang lebar padamu tentang keluarganya di kampung. Orang Jakarta juga manusia. Kita punya hati juga, kok.

“70, Bro.”

Di Jakarta, kamu harus bertanggung jawab atas nasibmu sendiri. Tersesat di jalanan dan celingukan? Jangan harap orang lain bakal menghampiri kamu dan menawarkan bantuan. Kamu harus inisiatif bertanya sendiri pada orang-orang di jalan. Biasanya sih kamu bakal malas tanya. Untungnya ada Google Map.

Orang bilang, ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Kata siapa? Jakarta itu hebat!

Entah kamu sudah tinggal di sana seumur hidup atau baru beberapa bulan sekalipun, dia sudah bisa membuatmu jadi manusia yang berbeda. Kadang kita gak sadar, tapi semua itu benar.

Intinya kamu bukan orang Betawi asli kayak Si Doel, deh.

Untuk kuliah atau urusan dinas, mungkin kamu berkesempatan merantau ke luar Jakarta. Kamu pun kaget menyadari bahwa hidup di kota selain Jakarta itu DAMAI. BANGET.

Hanya Jakarta yang bisa memahami dan memaklumi perilakumu. Hanya orang-orang Jakarta yang bisa senasib dengan kamu.

“Sori, gue dulu SMA 6.”

Tapi semua itu harus dibarengi dengan kemampuan individu yang mumpuni. Persaingan kerja di Jakarta itu ketat! Yang daftar ribuan, yang keterima gak bakal lebih dari 100 orang. Kalau mau dapet kerja bagus di Jakarta, jangan sampai kamu hanya ‘kosongan’ aja.

Kamu sadar kalau Jakarta itu sama saja seperti manusia yang pasti memiliki kekurangan. Justru kekurangan-kekurangan itulah yang sering bikin kamu kangen dan sadar kalau kamu cinta banget sama Jakarta. Pokoknya, mau apapun kekurangan dan kelebihannya, WE LOVE YOU, JAKARTA!

Kamu mengakui kalau kamu juga sering menghina-hina Jakarta. Apalagi kalau lagi parkir gratis di jalanan alias macet. Tapi di balik itu semua, kamu tahu bahwa hidupmu nggak akan sama kalau kamu nggak pernah tinggal di Jakarta.

Teman: “Kamu masuk kelas ndak e?”

Dengan sepuluh juta penduduknya, Jakarta bagaikan ibu hamil yang hamil anak kembar delapan. Penuh banget. Udah biasa yang namanya kemana-mana dan nyikut orang nggak sengaja. Nyium keringat dan bau badan orang? Udah biasa juga~~~

Kamu: “Nggak, nih. Badan gue nggak enak.”

Jakarta has reached a new high (or low, depends on how you see it): fun run in an air-conditioned mall. pic.twitter.com/rnrdVWAcTY

Bertemu dengan orang-orang yang semuanya hebat, luar biasa, dan bikin kamu merasa kecil, gak cukup, dan pengen lebih baik lagi.

“Kamu dulu SD dimana, sih?”

“…..”

Ini ‘village’ darimana-nya ya? Hehe.

Plaza berasal dari bahasa Spanyol dan berarti “lapangan terbuka untuk publik”. Tapi di Jakarta, ‘plaza’ biasanya menandakan perkantoran atau mall.

“SD 04 Pagi.”

Mending kalo dibilang keren! Yang sedih adalah kalau kamu dibilang sombong dan “berlagak”.

“Woh, nama daerahnya memang ‘Pagi’?”

Gak ada lagi harus berangkat ke kantor jam 5 pagi.

Terpaksa naik taksi –> Cari taksi yang reputasinya oke, duduk di belakang, langsung kirim nomer lambung taksi ke ortu atau pacar pas mobil jalan

Macet juga sering banget bikin kamu males kemana-mana. Akhirnya, harimu cuma bakal dihabiskan di rute yang itu-itu aja. Rasanya perlu usaha besar banget buat menjelajah kota. Alhasil, meskipun kamu sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, tetap ada sudut-sudutnya yang asing bagimu.

Yah, asal hati-hati aja sih. Salah-salah kamu ketemu penjual asongan yang suka nipu, ngebanderol teh botol seharga Rp. 150.000/botolnya. Hahaha.

Di Jakartalah perputaran arus informasi yang sebenarnya terjadi. Kamu bisa dengan lebih mudah tahu sesuatu sebelum orang-orang di kota lain. Kamu juga bisa lebih cepat menonton film tertentu atau membeli buku impor tertentu. Kamu bisa nonton konser artis internasional, dari Metallica sampai Taylor Swift.

Kasus meninggalnya mahasiswa gara-gara ditusuk pencopet HP? Check.

#hehe

Dari kecil, kamu sudah biasa mengakali gimana caranya bisa belajar dan menuntaskan tugas sekolah tanpa terhalang macet. Udah biasa banget pergi pagi buta, pulang larut malam. Kejar-kejaran sama kopaja dan metromini. Lari tunggang-langgang dari kafe ke kafe buat meeting. Multitasking sana-sini, belum selesai tugas A udah harus ngerjain tugas B.

Bangun telat, harga makanan murah banget, orang-orang ramah…aaaaaaaah…SURGA.

AMBISI: Nyalip Mayasari Bakti supaya sampe di kantor 15 menit lebih awal

Jalan besar, jalan pintas, jalan tol, semuanya macet. Nggak ada lagi celah buat menghindari macet, selain cabut dari rumah subuh-subuh dan pulang tengah malam. Kalau nggak gitu, kamu bakal tua di jalan.

Genangan air dan banjir di mana-mana menjadi penghambat lalu lintas di Jakarta. Kalau banjir, macet pun jadi berkali-kali lipat parahnya.

Kalau lagi gila, suhu udara bisa mencapai 40 derajat Celsius. Panas banget! Rasanya kulit kebakar klotek-klotek kalau udah harus keluar. Tenggorokanmu udah kayak krupuk melempem. Huft.

Nasib itu ada di tanganmu sendiri / Credit: Humans of Jakarta via www.facebook.com

Penduduk Jakarta nggak bisa hidup tanpa Tanah Abang! Beli bahan seragam, kerudung dan kebaya partai besar, daster, baju koko, semua ada dan murah-murah! Pasar ini sudah ada sejak tahun  1735, lho.

Gak ada lagi hampir tewas di tangan sopir bus gila.

Kasus tewasnya mahasiswi karena takut sama abang angkot dan akhirnya loncat dari angkot? Check.

Benturan budaya antara kamu dan teman-temanmu yang berasal dari luar Jakarta nggak terelakkan lagi. Kadang, perkaranya bisa sesederhana ngomong “gue-elo”!

Jakarta juga punya Monas. Bagi orang di luar Jakarta, Monas mungkin cuma tugu biasa yang sering mereka lihat di buku SD atau tivi. Bagi kamu, Monas adalah tempat sempurna buat jogging Minggu pagi, atau main-main iseng sore hari.

Mitos banget kalo ada orang bilang Jakarta itu isinya cuma mall doang. Di Jakarta itu ada macam-macam, Rumah budaya kita punya banyak: Erasmushuis, Goethe Institut, Salihara. Taman kota juga ada beberapa. Taman Suropati, Tangkuban Perahu, Tebet, sampai Taman Martha Tiahahu. Jangan lihat mallnya aja, ya!